Rabu, 14 Desember 2011
Keabadian Cinta
Rahasia Hati
Tlah kutunggu detik demi detik dari sebuah masa...
dalam jelajahi rindu yang mengharu biru
ditepian dedaunan dalam menatapi pucuk pucuk bambu
dari gemersik air mengalir diantara bebatuan kali
mengapit sunyi pada senja temaram.....
Tlah kumiliki hati ini demi sebuah nama yang terpatri
kutitip rindu pada hembusan angin dan dedeaunan
berharap sebuah sapaan kata dari senyum yang slalu kutunggu
dari patrian hati yang slalu menjadi milikmu..... abadi...... (Teluk Dalam, 10 agustus 2011)
Cemara
Dikerinduan Cemara
Aku menanti helaian daun menitipi masa lalu
Tlah lebih dari tiga tahun menjalani hari.....tanpamu, pada tepian itu...
Serak maharani dan mega rembulan yang mesti kutinggalkan
tapi rasa ini masih seperti dulu....untukmu...
Ada cerita antara sorak dan ceria dalam gempita……masa lampau
yang tetap terjaga indah dari relung hati
terus terjaga sampai nanti.....
Seusia embun yang bergetar didahan dahan pagi
Keperakan dari tuan tanah....yang berserakan direrumputan
berkilau diterpa sinar mentari pagi...
sebening itu kan rasa ini...... (161111ts)
Sendu Menggebu
Rinduku pada rupa adalah rindu padang terbuka
Dimana matahari membusur api diatas sana
Gamelan jawa meningkahi gerak gerak
Langkah kaki yang menapaki batang jati dari sendu rindu yang menggebu
Seperti topi Caping yang kau kenakan
Teduh diawan awan, meneduhi teduh tepian hutan itu,
Pada jejak tanah pulau, pada sebuah musim kita telusuri mimpi dan impian
Diantara daun gugur miniti asa
diluruh kabut itu menghiasi pagi, menyaru ditepian rindu yang kuaraungi hingga kini
dari deru gempita ombak pantai yang melebur diantara nyiur pantai.
Rindu ini adalah nyata
selalu mengharu biru menorah seluruh impian
seperti kita kembali pada luruh kabut indah masa lalu
Menusuki ritme letih hari dari tepian kaki hutan
Melewati tapal batas angan yang merisaui
Seperti angan kita rebuti helai itu
Serpih yang menyisakan bara api dan tetap terjaga
dari relung rindu masa lalu, masa kini dan masa akan datang
............
Pada goresan kata demi kata
Kita hiasi untaian kata (TS161111)
Selasa, 13 Desember 2011
Masa Kecil Yang Tergadaikan
Jumat, 09 Desember 2011
Peluh
Penantian
Aku masih menunggumu dalam detik
dalam lewati malam...dalam lewati waktu
demi menanti sapaan surya mentari esok hari....
Aku masih disini menemani malam
dalam rentang jarak dalam kikihnya kesunyian
(kerinduan dan penantian dalam detak 00.45)
24 Dalam 227
Masihkah ini menjadi kenangan kita......
Diujung pulau ditepian pantai dalam semilir angin malam
Ketika lewati waktu yang berdetak..diantara rimbunmya pepohonan
diantara deru samar suara ombak dalam remang kegelapan malam
Dalam detik waktu dua puluh empat lewati dua belas
bertautan dua cinta dari hati dengan ketulusan
Ketika ku sapa pagi.....engkau tlah duduk dibibir bukit
Menatap sang surya yang lemparkan warna kehidupan
Dalam keheningan hati untuk jalan panjang yang akan kita mulai dan kita lalui
Kita masih saling mengengaman tangan erat penuh makna
ketika menyusuri semilir angin pagi di tepian pantai
dalam beningnya ombak dan dalam putihnya pasir yang kita lewati
meninggalkan jejak cinta demi asa yang akan kita tapaki dalam senyum
Dan saat ini bayangan itu terus mengisi lembaran indah hati
Dalam lukisan kita yang bertautan cinta suci....
akan kah waktu itu berulang...
Hari demi hari lah berlalu...bulan dan tahun terlewati dengan atau tanpa makna
akankah kita kembali mengais kembali hari-hari penuh bunga seperti dulu dalam kebahagiaan
"Dari harapan yang tersisa dan makna yang tertinggal demi belahan jiwa" (Tautan hati dari masa lalu).
Sekuncup Rindu
Dalam sepi ku menanti dirimu
dalam sedih ku menatap malam
membelah sunyi dari sekucup rindu yang terus menggoda
Aku yang rentan tanpa mu
mengharapkan sepucuk senja di terawang malam hatiku
belahan jiwa yang tercabik karena rana
Detik 12
Lembayun malam pada detik 12
dari balik sepi kirimkan sekucup bunga
menanti balasan yang berharapkan mimpi
menepih bulan kala senja diufuk timur
Aku disini menangisi hati dari jiwa yang kau ambil dan tak tersisa
tlah kupilih hatimu dari lara dan raga sukmaku
kuingin kepakan sayapku membawa kau pergi
demi jalani sisa nafas yang kadang terpenggal
walau sisa hidup yang bukan milikku lagi
Rabu, 07 Desember 2011
Rintihan hujan dibalik kerinduan
Hujan kembali hadir hari ini dengan warna yang berbeda
ada kesedihan dalam lubuk tapi ada kebahagiaan dalam suka
terpancar dari banyak cahaya muka
tersirat dalam keheningan diri
aku datang dengan sebuah harapan dalam ribuan penyesalan
letih aku berjalan dengan tatih yang tak terobati
lelah aku memandang wajah yang tak kunjung kumiliki
dalam hati ini masih tersimpan prahara
dari hati yang luka dalam penat tak henti...
aku mencintaimu bukan karena luka....
bukan juga karena ...biasa
aku mencintaimu karena hati ini memilih dari asa
terisi dari relung yang kosong
aku menyayangimu penuh arti dengan makna tak henti
aku menyayangimu seperti kapas nan putih
aku tahu kau menunggu ku dibalik semua ini
bajakan waktu
Kuberjalan di sela sela kepahitan hati
dalam ramangan malam, kapal sunyi, rumah tua
diapit hati yang terbang, melayang....
kutelan pahit dalam dalam...demi kesendirian
dari bajakan waktu sepi, untuk merajut mimpi
menyulam bayang dari getiran pahit
berjalan sendiri menyusur semenanjung
dari rangkaian kelam, menepi, meratap....
Serpihan Hati
Sepi dalam menemani jiwa kosong
dari rintihan bunga yang tak mekar
kilau mentari tak membuat peluh luka ternganga
dalam himpitan badai gejolak
Cadas tak membuat serpihan hati
demi kasih yang menanti pelukan sejuta kenangan
kala belaian mengenang sejuta bunga
dari bibir yang merekah dalam sakit
Tikam diri dalam rasa cemburu
walau aku tak kuasa meronta

